Home Bisnis dan Ekonomi Wakil Ketua DPRD Jatim Minta Kenaikan Harga BBM Ditinjau Ulang

Wakil Ketua DPRD Jatim Minta Kenaikan Harga BBM Ditinjau Ulang

by Redaksi
0 comment
Wakil Ketua DPRD Jatim, Anik Maslachah ditemui di DPRD Jatim

Surabaya, Nusajawa.id – Wakil Ketua DPRD Jatim, Anik Maslachah meminta pemerintah meninjau ulang atau mereview kebijakan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di pertamax. Dimana dengan adanya kenaikan ini bisa mengakibatkan kondisi ekonomi yang mulai naik ditengah pandemi bisa kembali lesu dan menurun lagi.

“Kami menginginkan untuk kebijakan itu direview. Dimanja selama periodisasi kepemimpinan Indonesia Baru kali ini naiknya itu berapa kali lipat,” kata Anik ditemui di ruang kerjanya, Selasa (05/04).

Seperti diketahui, PT Pertamina (Persero) resmi menaikkan harga BBM non subsidi jenis bensin Pertamax (RON 92), berlaku efektif per hari ini, Jumat, 1 April 2022, pukul 00:00 waktu setempat. Berdasarkan pengumuman resmi perseroan, harga Pertamax per 1 April 2022 ini naik menjadi di kisaran Rp 12.500 sampai Rp 13.500 per liter dari sebelumnya Rp 9.000 sampai Rp 9.400 per liter.

Menurut Anik, saat ini bukan waktu yang pas dalam menaikan harga BBM. Sebab, pandemi Covid-19 yang sudah dua tahun mengganggu kesehatan dan perekonomian baru saja mengalami geliat pemulihan. Jika kebijakan tersebut tetap dijalankan akan memperberat beban yang ditanggung masyarakat. “Indonesia baru merambat untuk bangkit. Janganlah kemudian masyarakat terlalu dibebani,” tuturnya.

Anik menuturkan, efek domino akibat kenaikan BBM begitu besar. Sektor yang pasti terdampak adalah naiknya harga bahan pokok, searah dengan tingginya harga BBM. Sehingga mengakibatkan daya beli masyarakat akan berkurang, dan dikhawatirkan perekonomian kembali melesu.”Kenapa, seringnya, kenaikan BBM pasti implikasinya kenaikan sembako,” tegasnya.

Tidak hanya itu, politisi asal Sidoarjo ini mengatak stok BBM yang tidak mengalami kenaikan, seperti jenis Pertalite di SPBU seperti mengalami pengurangan. Sehingga masyarakat mau tidak mau haru beli BBM jenis pertamax. Seharusnya hal tersebut tidak terjadi. “Stok yang tidak mengalami kenaikan harus diperbanyak, sebut saja Pertalit. Saya juga melihat sendiri, stoknya semacam terkurangi,” kata Anik.

Untuk di Jatim sendiri, perlu adanya pengantisipasian kekurangan stok BBM. Petrogas Jatim Utama (PJU) , salah satu BUMD milik Pemprov Jatim yang bergerak dalam midang minyak dan gas harus bergerak cepat. Memastikan persediaan BBM, khususnya jenis pertalit tidak mengalami kelangkaan.

“Yang tau pasti adalah komisi yang terkait. Saya pikir komisi C perlu memanggil PJU, BUMD yang mengurusi migas di Jatim. Setidaknya stok tidak mengalami kelangkaan,”pungkasnya. (NJ/red)

 

You may also like

Leave a Comment