Home News Sejarah Hari Buruh: Dilarang di Masa Orba, Kini Jadi Hari Libur Nasional

Sejarah Hari Buruh: Dilarang di Masa Orba, Kini Jadi Hari Libur Nasional

by Redaksi
0 comment
Aksi Hari Buruh 2018 (Foto Kompas))

Nusajawa.id – Hari Buruh Internasional atau May Day dirayakan setiap tahun pada 1 Mei. Hari ini ditetapkan untuk memperingati perjuangan bersejarah yang dilakukan oleh pekerja dan gerakan buruh di banyak negara.

Di Indonesia, sejak 2014, Hari Buruh dijadikan hari libur nasional dan setiap tanggal tersebut, jalan-jalan selalu dipenuhi dengan rally ribuan buruh, dari kawasan pabrik menuju pusat pemerintaha. Di Jakarta, Istana Negara, DPR RI atau kawasan Bundaran HI menjadi tempat favorit untuk melakukan aksi May Day.

Di Indonesia, setiap peringatan Hari Buruh biasanya selalu riuh rendah dengan aksi turun ke jalan untuk memperjuangkan hak. Namun, karena Hari Buruh kali ini berdekatan dengan momentum Lebaran, Alhasil, peringatan hari buruh tidak terdengar keras seperti biasanya.

Untuk dikerahui, peringatan Hari Buruh Internasional berawal dari aksi unjuk rasa serikat buruh di Amerika Serikat pada 1 Mei 1886. Aksi pada saat itu menuntut sistem delapan jam kerja per hari, delapan jam lebih ringan dibandingkan tuntutan perusahaan yang memperkerjakan buruh hingga 16 jam setiap harinya. Aksi tersebut diwarnai dengan aksi mogok kerja massal yang terjadi di berbagai kota dan pada akhirnya terjadi tindak kekerasan.Seorang buruh tewas dalam aksi tersebut. Untuk menghargai perjuangan buruh, maka 1 Mei pun ditetapkan sebagai Hari Buruh Internasional.

Di Indonesia sendiri, peringatan Hari Buruh marak dilakukan pada pemerintahan Soekarno. Tapi masa pemerintahan Orde Baru, pemerintahan Soeharo melarang peringatan Hari Buruh dengan tuduhan dekat dengan paham komunis. Semasa rezim Soeharto, aksi peringatan Hari Buruh masuk kategori subversif. Aksi hari buruh pertama pada masa Orde Baru dilakukan pada 1 Mei 1995 oleh Pusat Perjuangan Buruh Indonesia (PPBI) dan Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID), yang bernaung di bawah Partai Rakyat Demokratik (PRD)―yang saat itu masih bernama Persatuan Rakyat Demokratik. Aksi saat itu digelar di dua tempat, yakni di Simpang Lima Semarang dan di depan kantor Departemen Tenaga Kerja, Jakarta. Kedua aksi itu direpresi aparat. Sejumlah aktivis buruh dan mahasiswa digebuk dan ditangkap.

Sementara peringatan Hari Buruh Sedunia di awal era reformasi diperingati pada 1 Mei 1999, bertempat di Kampus FKUI Salemba, Jakarta. Aksi itu diinisiasi STOVIA (organisasi gerakan mahasiwa FKUI Salemba), KBUI (Keluarga Besar UI) dan KOBAR (Komite Buruh untuk Aksi Reformasi). Peringatan Hari Buruh Sedunia ini dihadiri oleh ribuan peserta, baik dari gerakan buruh yang diorganisir oleh KOBAR dan mahasiswa STOVIA- FKUI, dan KBUI.

Setelah reformasi 1998, aksi buruh menjadi lebih massif dan dilakukan setiap tahun oleh kelompok buruh. Tuntutan pun masih tidak jauh dari kesejahteraan buruh. Di Jakarta, ribuan buruh, mahasiswa, organisasi kepemudaan, dan masyarakat turun ke jalan. Aksi tersebut dilakukan secara besar-besaran dengan titik tuju Istana Merdeka, Gedung DPR RI, Gedung Balai Kota dan DPRD DKI, Gedung Depnaker dan Disnaker DKI, serta Bundaran Hotel Indonesia.

Perjuangan buruh itu akhirnya membuahkan hasil. Pemerintah menetapkan 1 Mei sebagai hari libur nasional mulai 2014. Keputusan itu diambil Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 29 Juli 2013. (NJ/red)

You may also like

Leave a Comment