Home Opini Rais PBNU: Biasakan Berpikir Positif Terhadap Hal “muhtamalat” Seperti Kasus Pengeras Suara Adzan

Rais PBNU: Biasakan Berpikir Positif Terhadap Hal “muhtamalat” Seperti Kasus Pengeras Suara Adzan

by Redaksi
0 comment 2 menit read

Nusajawa.id – Rais PBNU KH. Azizi Hasbullah mengajak masyarakat untuk membiasakan berpikiran positif, terutama terhadap hal-hal yang muhtamalat (bisa ditafsirkan dengan berbagai kemungkinan), terutama terhadap sesama muslim/NU, seperti pengaturan pengeras suara untuk adzan oleh Menag Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut).

“Gus Yaqut adalah seorang santri, putra seorang ulama, dan cucu seorang Ulama besar pula. Saya haqqul Yaqin, dengan pernyataannya itu, Gus Yaqut tidak bermaksud melecehkan suara adzan, yang merupakan panggilan shalat yang mulia,” kata perumus Lajnah Bahtsul Masail PWNU Jatim itu dalam keterangan tertulis, Sabtu (26/02).

Ia menjelaskan Gus Yaqut juga tidak sedang membandingkan azan dengan suara anjing, seperti pernyataan dalam video yang beredar di dunia maya (medsos), karena isi Surat Edaran Nomor 05/2022 tentang Pedoman Pengeras Suara di Masjid/Mushala yang sebenarnya tidak menyebutkan contoh perbandingan itu, namun mengatur tata cara yang bersifat teknis.

Misalnya, SE yang bertujuan demi memperkuat keharmonisan itu mengatur volume pengeras suara diatur sesuai dengan kebutuhan, dan paling besar 100 dB (seratus desibel). Tata Cara Penggunaan Pengeras Suara diatur untuk Waktu Salat dan Upacara Hari Besar Islam, diantaranya pengeras suara luar maksimal 10 menit untuk Subuh dan Jumat, lalu maksimal 5 menit untuk Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya.

Untuk Upacara Hari Besar Islam, Tata Cara Penggunaan Pengeras Suara diatur untuk pengeras suara dalam untuk Salat Tarawih, ceramah/kajian Ramadan, dan tadarrus Al-Qur’an, sedang takbir dapat dilakukan dengan menggunakan Pengeras Suara Luar sampai dengan pukul 22.00 waktu setempat dan dapat dilanjutkan dengan Pengeras Suara Dalam. Untuk Salat Idul Fitri dan Idul Adha dapat menggunakan Pengeras Suara Luar.

“Jadi, Gus Yaqut menekankan betapa pentingnya volume suara adzan itu diatur, supaya tidak mengganggu, lebih-lebih dalam masyarakat yang mayoritas non muslim. Jadi, mari kita husnuddzan kepadanya. Itulah sikap yang sepatutnya kepada saudara seagama dan seaqidah (NU). Kita kembali kepada substansi, bukan pada contoh yang digoreng di dunia maya,” katanya.

Alumni MHM PP Lirboyo Kediri, Jatim itu menyatakan banyak orang yang tidak suka bila Gus Yaqut menjadi menteri, juga tidak menginginkan NU menjadi besar. Tidak hanya orang di luar NU, tapi juga yang mengaku warga NU. Orang-orang yang punya dendam dengan NU atau tidak suka NU itu terus-menerus mencari cara untuk memojokkan dan menekan NU.

“Dengan segala cara dan dana yang menggunung, mereka terus menerus membuat pencitraan negatif tentang NU dan warga NU. Yang dari dalam NU sendiri, ada yang karena motif politik, persaingan antar partai, atau bahkan pembunuhan karakter. Celakanya, kita warga NU kadang-kadang, ikut-ikut membully saudara kita sendiri, menari dalam irama musik para pembenci NU itu,” katanya.

Sementara itu, Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Anwar Abbas mengaku setuju dengan terbitnya Surat Edaran Nomor 05/2022 soal Pedoman Pengeras Suara di Masjid/Mushala demi memperkuat keharmonisan dan ketentraman di masyarakat, tapi penerapannya jangan terlalu kaku.

“Maksud dari pernyataan supaya aturan itu tidak kaku adalah bagi daerah yang 100 persen penduduknya beragama Islam seharusnya dimaklumi penggunaan pengeras suara yang keluar. Sebab, hal itu sebagai syiar Islam. Oleh karena itu, mungkin di peraturan tersebut perlu ada konsideran yang mengatur dan memberi kelonggaran menyangkut hal demikian,” kata Waketum MUI itu kepada pers. (NJ/radar96.com)

You may also like

Leave a Comment