Home Oase Raden Ajeng Kartini Tulisan Progresifnya Tetap Abadi Melintasi Zaman

Raden Ajeng Kartini Tulisan Progresifnya Tetap Abadi Melintasi Zaman

by Redaksi
0 comment

“Teruslah bermimpi, teruslah bermimpi, bermimpilah selama engkau dapat bermimpi! Bila tiada bermimpi, apakah jadinya hidup! Kehidupan yang sebenarnya kejam.”

“Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya.”

“Bukanlah laki-laki yang hendak kami lawan, melainkan pendapat kolot dan adat uang.”

Kutipan di atas dituliskan oleh Raden Ajeng Kartini dalam korespondensi dengan Rosa Abendanon, guru sekaligus sahabatnya di negeri Belanda. Usianya masih belasan tahun saat menulis itu. Namun, banyak ide-ide bernas dan pemikiran-pemikiran yang melampuai zaman yang telah ia tuliskan.

Kartini lahir di Jepara pada 21 April 1879, atau pada hari ini tepat 143 tahun lalu. Hingga kini namanya abadi kita kenang sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi Nusantara dan simbol perjuangan perempuan untuk mencapai kesetaraan.

Ia lahir dari keluarga bangsawan Jawa, putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, Bupati Jepara, Jawa Tengah. Kartini adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama.

Kondisi keterkungkungan dalam adat priyayi Jawa saat itu, yang mengharuskan ia dipingit, tak bisa leluasa bersekolah, membuatnya gelisah.

Ia belajar apa saja, dalam bahasa Belanda, lewat buku-buku dan majalah, salah satunya diperoleh dari kakaknya: Raden Mas Panji Sosrokartono. Ia merupakan mahasiswa Indonesia pertama yang bersekolah di negeri Belanda dan lantaran kecerdasannya, ia menguasai lebih dari 30 bahasa. Orang-orang Eropa pun menjulukinya “Si Jenius dari Timur”

Sang kakaklah salah satu penopang gagasan-gagasan progresif Kartini. Pada usia 14 tahun ia telah banyak menulis, salah satunya berjudul “Upacara Perkawinan pada Suku Koja” yang terbit di Holandsche Lelie. Sejak 1899 hingga 1904, Kartini mengirimkan puluhan surat kepada Abendanon.

Surat-surat tersebut menguraikan pemikirannya terkait berbagai masalah. Termasuk tradisi feodal yang menindas, pernikahan paksa dan poligami bagi perempuan Jawa kelas atas, dan pentingnya pendidikan bagi anak perempuan. Hal-hal itu membuat Kartini gelisah.

Setelah Kartini wafat, surat-surat yang pernah dikirimkan Kartini pada teman-temannya di Eropa tersebut dikumpulkan dan diterbitkan dengan judul Door Duisternis tot Licht, yang arti harfiahnya “Dari Kegelapan Menuju Cahaya” dan terbit pada 1911.

Di Indonesia, buku itu lantas diterjemahkan sastrawan Armijn Pane dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang dan diterbitkan Balai Pustaka sejak 1938 hingga 1978.

Pemikiran-pemikiran Kartini yang tertuang dalam surat-suratnya juga menjadi inspirasi bagi tokoh-tokoh kebangkitan nasional Indonesia, antara lain W.R. Soepratman yang menciptakan lagu berjudul “Ibu Kita Kartini”.

Hingga kini, buku ini telah menjadi rujukan bagi bangsa Indonesia. Kartini yang wafat saat melahirnya putranya, RM Susalit, pada usia 25 tahun tersebut tidak hanya merupakan simbol emansipasi perempuan, ia juga menjadi simbol harapan. Bahwa dulu ia memiliki pemikiran yang dianggap tabu dan tak mungkin terwujud terkait pendidikan untuk perempuan. Kartini tidak menyerah begitu saja terhadap nilai-nilai yang mengekang perempuan. Kartini berusaha mendobraknya dengan caranya, yaitu menulis dan menyuarakan pemikiran dan gugatannya.

Hingga kini, pemikiran Kartini masih sangat relevan. Kartini merupakan teladan, sumber inspirasi dan energi bangsa ini tentang perjuangan perempuan dan nilai-nilai kebangsaan yang perlu selalu kita pegang untuk melangkah ke depan.

You may also like

Leave a Comment