Home Pendidikan PWNU Jatim: Nahdlatul Ulama Berdiri Atas Restu Syaikhona Kholil Bangkalan

PWNU Jatim: Nahdlatul Ulama Berdiri Atas Restu Syaikhona Kholil Bangkalan

by Redaksi
0 comment 2 menit read

Nusajawa.id – Sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama tak lepas dari restu Syaikhona Muhammad Kholil bin Abdul Lathif Bangkalan, guru para ulama di Nusantara, Karena itu, semangat dan dorongan spiritual dari Syaikhona berhasil menjadikan tokoh-tokoh muassis (pendiri) NU menggerakkan organisasi Islam berkembang hingga kini.

“Karomah dan keberkahan Syaikhona Kholil al-Bankalany nyata hingga kini. Bagaimana tidak, Hadlratussyaikh Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab Hasbullah, Kiai Bisri Syansuri, Kiai As’ad Syamsul Arifin dan para muasis lainnya, adalah murid-murid Syaikhona Kholil yang ilmunya berkembang dan memberi manfaat hingga sekarang dan insyaAllah hingga hari akhir,” kata Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, KH Marzuki Mustamar, dalam keterangannya, Sabtu.

Saat acara Istighotsah Kubro, Ngaji Kitab dan Ijazah Ratib Karya Syaikhona Kholil Bangkalan, bersama Dzurriyah Muassis NU dan Masyayikh Sepuh Jawa Timur, di Bangkalan, Kamis(17/02) lalu, Kiai Marzuki menjelaskan, umat Islam dan warga NU khususnya teraliri keberkahan Syaikhona Kholil Bangkalan. NU didirikan pada 31 Januari 1926 M bertepatan 16 Rajab 1344 H di Kota Surabaya, atas restu Syaikhona Kholil.

Dalam rangka menyongsong 100 Tahun NU dengan acara bertema “Merawat Jagat, Membangun Peradaban” yang dihadiri Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf dan jajarannya itu, KH Marzuki Mustamar menyatakan karomah Syaikhona Kholil nyata, kealimannya nyata.

“Bagaimana tidak karomah, sampai sekarang kita merasakan karomahnya. Kenapa? Buktinya, KH Hasyim Asy’ari dan ulama generasi pendiri NU berhasil mendirikan pondok pesantren yang hingga kini memberi manfaat bagi umat Islam secara luas,” tutur KH Marzuki Mustamar.

Diingatkan Kiai Marzuki Mustamar, Pengasuh Pesantren Sabilurrosyad Kota Malang, umat Islam dan warga NU agar selalu berpegang pada nilai-nial ajaran Islam ala Ahlussunnah Waljamaah yang dikembangkan NU.

“Bentuk tidak lari dari Syaikhona Kholil adalah dengan berkomitmen, secara penuh. Enak gak enak, sugih atau melarat, mengikuti Nahdlatul Ulama,” tutur Kiai Marzuki, diamini ribuan jamaah yang hadir Masjid Syaikhona Kholil.
Menurutnya, saat ini mulai ada warga Madura yang kurang hormat pada Syaikhona Kholil Bangkalan. Mulai ada yang terpengaruh aliran di luar yang diajarkan Syaikhona Kholil. “Adakah kiai lain di Madura yang kealimannya melebihi Syaikhona? Saya kira, tidak ada. Mari kita ikuti warisan Syaikhona, warisan Kiai Hasyim Asy’ari dan ulama muassis NU.

“Jangan mencari keuntungan pribadi untuk NU, jangan memperalat NU. Bila ada yang begitu, bukan barokah Syaikhona yang didapat. Bisa jadi yang didapat adalah ketidakberkahan,” tuturnya Kiai Marzuki Mustamar.

Pada secara simbolis Kiai Marzuki menyampaikan pemberian 10 ribu kacamata untuk guru ngaji dan santri se-Jatim dari NU Care – LazisNU Jatim.

Dalam puncak Harlah ke-99 itu digelar Istighotsah Kubro dan Kitab Ratib karya Syaikhona Kholil. Sebelumnya pembacaan Istighotsah bersama Habib Ahmad Al-Habsyi (Pasuruan) dan KH Zuhri Zaini (Pengasuh Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo). Pembacaan Kitab dan Ijazah karya Syaikhona Kholil disampaikan dua kiai yang merupakan dzuriyat Syaikhona Kholil, yakni KH Muhammad Faishol Anwar dan KH Makki Nasir.

Pertama, disampaikan KH Muhammad Faishol bin Anwar, Pengasuh PP Al-Kholiliyah An-Nuruniyan Demangan Timur Bangkalan (cicit Syaikhona Kholil). Ijazah Kitab Majmu’ Syarif karya Syaikhona Muhammad Kholil bin Abdul Lathif al-Bankalany.

“Sekitar 60 tahun lalu, mengaji kepada mbak KH Yasin bin Ya’kub, menantu mbah Syaikhona Kholil Bangkalan. Sekarang kami ijazahkan kepada umat Islam, warga NU yang hadir di makbaroh ini, Kitab Majmu’ Syarif,” tutur Kiai Faishol Anwar.

KH Makki Nasir, Ketua PCNU Bangkalan yang juga cicit Syaikhona Kholil menyampaikan Ijazah Kitab Ratib Syaikhona Kholil.

“Kami rutin setiap bulan, tepatnya malam Kamis Kliwon di makbaroh Syaikhona Kholil, kitab ini dibaca berjamaah. Diawali dengan Ummul Quran bersama KH Jalil Kholil, bacaan Ratib oleh KH Hasbullah Muhtarom, serta Shalawat Ilmy dipimpin KH Karor Aschall,” tutur Kiai Makki Nasir.

Sebelummya, KH Khoil Yasin, ulama kharismatik dari Kepang Bangkalan, secara rutin membaca bersama para santrinya kitab Ratib Syaikhona Kholil.

Menurut Kiai Makki Nasir, suatu ketika KH Hasan Iraqi Sampang, menyampaikan pesan bahwa dalam bacaan susunan di Ratib Syaikhona Kholil mempunyai keutamaan dan pentingnya Ratib ini diamalkan oleh para santrinya.

“Demikian pula perlu diamalkan para santri dan umat Islam. Sehingga, kita bisa mengambil manfaat dari Ratib Syaikhona Kholil Bangkalan,” tuturnya. (NJ/radar96.com)

You may also like

Leave a Comment