Home Gaya HidupKomunitas PBNU Sapa Diaspora Nahdliyyin di AS dan Kanada, bawa Agenda R20

PBNU Sapa Diaspora Nahdliyyin di AS dan Kanada, bawa Agenda R20

by Redaksi
0 comment

Nusajawa.id – Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Akhmad Said Asrori dan Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa melakukan safari dakwah di Amerika Serikat (AS) dan Kanada pada pekan terakhir Mei 2022 hingga awal Juni 2022.

“Kunjungan keduanya bukan sekadar anjangsana ke luar negeri tanpa arti. Setidaknya, ada tiga agenda yang diemban dalam rangkaian perjalanannya selama hampir dua pekan itu, yakni bersilaturahmi, berdakwah, serta berdiplomasi,” ujar Ketua PCINU AS-Kanada, M Izzul Haq, yang juga kandidat doktor Universitas Mc Gill, Montreal, Kanada itu, Sabtu (18/06)

M Izzul Haq, menyampaikan bahwa kunjungan ini sangat penting dalam rangka menyapa sekaligus merawat diaspora Nahdliyin, baik kalangan terdidik maupun profesional yang berdomisili di AS dan Kanada.

Temu Nahdliyin dan Pengajian Washington DC menjadi lawatan pertama rombongan PBNU dalam safari dakwahnya di negara tersebut. Kiai Said Asrori dan Kiai Zulfa Mustofa tiba di ibukota Negeri Paman Sam itu pada Senin, (23/05) pada sore waktu setempat.

Esoknya, Selasa, (24/05), mereka bertemu dengan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat Rosan Roeslani, dilanjutkan dengan mengunjungi Masjid Muhammad, Masjid Nasional Amerika Serikat.

Pada Rabu, (25/05), rombongan membuka kegiatannya dengan bersarapan bersama di kediaman Habib Zen Al Jufri, Wakil Rais Syuriyah PCINU Amerika Serikat Kanada di Maryland.

Di hari itu juga, keduanya melanjutkan perjalanan dengan mengunjungi Masjid IMAAM Center, pusat masyarakat Muslim Indonesia.

Esoknya, Kamis, (26/05), Kiai Said Asrori dan Kiai Zulfa Mustofa melanjutkan perjalanan menuju Philadelphia guna mengunjungi Masjid Bawa Muhaiyaddeen sekaligus menziarahi makam Syekh Bawa Muhaiyadeen.

Di hari itu, juga, keduanya mengikuti pengajian yasin dan tahlil bersama Nahdliyin Philadelphia dan jamaah Masjid Al-Falah, masjid Indonesia kedua yang didirikan di Amerika Serikat.

Setelah itu, malam itu juga keduanya bertolak menuju New York. Katib Aam dan Waketum didampingi Rais Syuriyah PCINU AS dan Kanada Prof Salahuddin Kafrawi dan Wakil Rais Syuriyah PCINU AS-Kanada Prof Etin Anwar menemui Syekh Musa Drammeh didampingi Ustadz Shamsi Ali di KJRI New York pada Jumat, (27/05).

Sebagai Duta Islam Nusantara, Kiai Said Asrori dan Kiai Zulfa Mustofa juga berkesempatan untuk shalat Jumat di Masjid Al-Hikmah, New York, sebuah masjid yang dikelola oleh diaspora Muslim Indonesia itu.

Berikutnya, Kiai Said dan Kiai Zulfa makan siang bersama dengan Konjen RI di New York Arifi Saiman. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan silaturahmi virtual dengan PCINU Amerika Serikat Kanada.

Di hari esoknya, Sabtu, (28/05), Kiai Said dan Kiai Zulfa melakukan silaturahim dan pengajian di Masjid Al-Hikmah New York.

Minggu, (29/05), pagi, PBNU melanjutkan perjalanan ke Boston, Massachussets. Di sana, Katib Aam dan Waketum PBNU bersilaturahmi dengan Nahdliyin di Massachussets dan Pengajian Jamaah Al-Iqra, Boston.

Kiai Said dan Kiai Zulfa melanjutkan agendanya dengan mengunjungi Masjid Istiqlal Islamic Centre of Toronto (IICT), Masjid Baitul Islam, dan Jaffari Community Center pada Selasa, (31/05).

Malamnya, kedua ulama NU ini bersilaturahim dan memberikan pengajian kepada masyarakat Islam Indonesia Toronto (MIIT).

Selanjutnya pada Rabu, (01/06), Kiai Said dan Kiai Zulfa mengagendakan pertemuan dengan Islamic Food and Nutrition Council of Canada (IFANCC) dan mengunjungi Masjid Islamic Society of Niagara Peninsula.

Di hari yang sama pada malam harinya, keduanya bertemua dengan diaspora Indonesia di Toronto, Kanada. Kamis, (02/06), Katib Aam dan Waketum PBNU berjalan menuju Ottawa.

Di ibukota Kanada itu, perwakilan PBNU tersebut melakukan dialog kebangsaan bersama dengan diaspora Indonesia di KBRI Ottawa. Kunjungan tersebut didampingi Ketua PCINU Amerika Serikat dan Kanada M Izzul Haq.

Amin Makrup, salah seorang tokoh diaspora Nahdliyin yang sudah puluhan tahun tinggal di Kanada itu, menyampaikan ini merupakan kunjungan perdana dari delegasi kiai PBNU ke wilayah Kanada.

Dalam kesempatan silaturahim tersebut, PBNU menegaskan kembali kiprah dan peran strategis NU bagi bangsa Indonesia dan visi NU dalam membangun semangat kebangsaan. Ditekankan pula bahwa kunjungan NU ke Kanada kali ini merupakan bagian dari upaya penguatan diplomasi Indonesia di Kanada, khususnya dalam kaitan people-to-people connectivity.

Dua hari terakhir sebelum kembali ke Indonesia, Kiai Said dan Kiai Zulfa mengagendakan serangkaian pertemuan di Kota Montreal. Bertempat terbuka di Park Mont Royal, yang menjadi taman ikonik kota Montreal Kanada, PCINU AS-Kanada bekerja sama dengan Syiar Montreal menggelar istighotsah dan pengajian, Sabtu (04/06), yang dihadiri oleh 50 keluarga diaspora Indonesia di kota terbesar kedua di Kanada setelah Toronto.

Pembacaan istighotsah ini dipimpin oleh A Fathan Aniq, Wakil Sekretaris PCINU Amerika Serikat Kanada yang merupakan kandidat doktor Studi Islam Universitas McGill dan ditutup dengan doa oleh Waketum PBNU KH Zulfa Mustofa.

Kegiatan ini juga diisi dengan pengajian oleh Kiai Said. Ia membahas pentingnya merefleksikan QS At-Tin dalam kehidupan sehari-hari. Kiai Said menyinggung tentang bagaimana Allah telah menciptakan manusia dalam sebaik-sebaik bentuk yang lantas jatuh dan turun berada di tempat serendah-rendahnya. Hanya keimanan dan amal salehlah yang menyelamatkan dari penurunan tersebut.

Selanjutnya, Kiai Said berpesan kepada jamaah pengajian untuk senantiasa menjunjung tinggi keimanan dan selalu beramal kebaikan sebagai langkah menjaga agar manusia tetap menjadi ahsani taqwim.

Rombongan PBNU bertemu dengan Prof Robert Hefner, guru besar di Universitas Boston sekaligus eksekutif di The American Institute for Indonesian Studies (AIFIS). Ia merupakan seorang akademisi Amerika Serikat yang banyak meneliti Indonesia, tak terkecuali Nahdlatul Ulama.

Akademisi yang akrab di sapa Pak Bob itu menyampaikan tentang adanya peluang bagi santri Nahdliyin untuk mengambil kesempatan short study, summer course, visit, riset melalui AIFIS.

Religion G20

Dalam pertemuan dengan Pak Bob, Kiai Zulfa menyinggung tentang program R-20 dan acara perayaan 100 tahun NU. Pertemuan dengan Pak Bob menjadi agenda terakhir PBNU di AS.

Di hari yang sama, Kiai Said dan Kiai Zulfa bertolak ke Toronto, Kanada, menggunakan pesawat terbang. Tiba pada Senin petang, PBNU langsung disambut oleh Konsul KJRI Toronto Dyah Asmarini dengan makan malam bersama.

Pada Jumat, (03/06), giliran di Kanada, kedua kiai PBNU menjadi tamu dari Prof Philip Buckley yang merupakan professor senior di McGill University yang pernah memimpin proyek Kerja sama CIDA-McGill University dan Kementerian Agama beberapa tahun silam.

Dubes KBRI Ottawa, Daniel Tumpal Simanjuntak turut hadir mendampingi pertemuan itu. Dalam suasana pertemuan yang berlangsung hangat dan akrab itu, selain menjadi ajang memperkenalkan kepengurusan PBNU yang baru juga mempromosikan tagline 100 Tahun NU “Merawat Jagat, Membangun Peradaban”.

Pertemuan itu juga mendiskusikan peluang kerja sama ke depan antara Kanada, khususnya Universitas McGill dengan NU. Mahasiswa Indonesia dari berbagai bidang keilmuan yang tengah mengambil studi di kampus itu hadir pula dalam pertemuan tersebut.

Topik diskusi yang diangkat dalam pertemuan di antaranya mengenai kerja sama strategis Indonesia-Kanada, khususnya yang melibatkan Kemenag RI terkait pengiriman mahasiswa Indonesia untuk belajar kajian Islam.

Amerika Serikat dan Kanada merupakan dua negara maju yang merupakan anggota G-20 yang akan mengirimkan delegasinya ke Bali. Kunjungan Katib Aam dan Waketum PBNU ke kedua negara ini menjadi kesempatan penting untuk memperkenalkan agenda konferensi internasional Religion 20 yang akan diselenggarakan oleh PBNU menjelang pertemuan G-20 November 2022.

Pada Selasa, (24/05), Kiai Ahmad Said Asrori dan Kiai Zulfa diterima secara khusus oleh Dubes RI di Washington DC, Rosan Roeslani. Dalam kesempatan tersebut, selain bersilaturahmi dan memperkenalkan kepengurusan baru PBNU juga sekaligus menginformasikan agenda konferensi internasional R-20.

Sementara itu, Sabtu (04/06), bertempat di Montreal, dilangsungkan pertemuan hangat dan akrab Kiai PBNU dengan Dubes RI di Ottawa, Daniel Tumpal Simanjuntak. Mereka membahas rencana strategi kerja sama yang dapat digali antara Pemerintah Indonesia dan Kanada.

Selain itu, juga dibahas mengenai dukungan NU dan rencana kerja sama ke depan antara NU dengan KBRI Ottawa, termasuk rencana kelanjutan kerja sama pengiriman mahasiswa untuk belajar kajian Islam di Universitas McGill.

Sebelum kembali terbang ke Tanah Air, Kiai Said dan Kiai Zulfa bertemu dengan Kepala Kantor Kepentingan Indonesia Pada (KKIP) ICAO/Atase perhubungan KBRI Ottawa Afen Sena. Setelah itu, keduanya langsung lepas landas dari Ottawa menuju Indonesia pada Sabtu, 4 Juni 2022, malam.

Tasamuh dan Moderasi

Sementara itu, KH A Jazuli Nur, Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur menegaskan kesaktian NU. Sebagaimana sejarah menceritakan bahwa, sejarah berdirinya NU telah dirumuskan dalam Muktamar ke-27 NU di Situbondo tahun 1984 yang menyatakan, NU adalah wadah perjuangan para ulama dan pengikutnya.

Pernyataan itu disampaikan saat memberi sambutan di acara Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep di Pondok Pesantren Tarate Selatan (Taretan) Pandian, Kota, Sumenep, Minggu (19/02)

“Yang namanya perjuangan tidak akan selesai begitu saja, tetapi ila yaumil qiyamah. Dari sini pengurus selalu berinovasi dan dirancang dalam 3 pilar pemikiran NU, yaitu amaliyah, fikrah dan harakah. Konsep muassis NU ini luar biasa dan sampai kapanpun tetap relevan,” ungkapnya dalam acara bertajuk ‘Konsolidasi Jamiyah dan Jamaah untuk Memperkuat Ranting NU’ itu.

Dikatakan pula, jika pemerintah ribut dengan aliran radikalisme, NU tetap eksis dengan tasamuh dan moderasinya yang sejalan dengan ijtihad yang dicanangkan pada tahun 1926.

“PCNU Sumenep merupakan salah satu yang berprestasi di Jawa Timur, baik dari segi perangkat jamiyah dan ekonominya melalui Baitul Maal wa Tamwil Nuansa Umat (BMTNU). Juga di pesantren dan lembaga pendidikan Islam yang beradaptasi dan setara dengan lembaga lainnya, bahkan mengungguli dari sekolah di luar NU,” ujarnya.

Sebelumnya (18/05), Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, KH Marzuki Mustamar mengungkapkan cara cerdas almarhum RKH Fakhrillah Aschal melawan aliran wahabi ketika menyerang Bangkalan.

“Kami dari jauh melihat kebaikan yang dilakukan oleh almarhum Kiai Fakhri saat Bangkalan mulai diserang wahabi dan yang lain. Almarhum tampil dengan menggencarkan Bangkalan bersholawat. Sehingga mudah sekali menangkal wahabi,” kata Kiai Marzuki saat takziah sekaligus menghadiri tahlil hari ke-4 wafatnya RKH Fakhrillah Schal di Pondok Pesantren Syaikhona Moh Kholil Bangkalan, Selasa, (17/05).

Menurutnya, aliran wahabi yang semula menyerang sedikit-sedikit akan menyingkir asalkan Bangkalan bersholawat tetap dijalankan. Ini karena karakter wahabi sendiri yang tidak mau dengan maulid Nabi.

“Luar biasa Kiai Fakhri punya cara cerdas bagaimana melawan wahabi tanpa harus bertengkar sesama muslim, tanpa harus berkonflik sesama maduranya dengan cukup mengadakan program Bangkalan bersholawat,” jelasnya.

Program Bangkalan bersholawat yang digerakkan oleh Kiai Fakhri ini kemudian disambut baik oleh masyarakat. Banyak yang meminta Kiai Fakhri datang ke berbagai daerah untuk menggelar majelis pembacaan sholawat bersama. Bahkan, Rais Syuriah PCNU Bangkalan tersebut dalam sehari bisa datang ke 15 tempat acara.

Bukan hanya itu, ketika melihat masyarakat awam sedikit banyak mulai berpaling dari agama, maka Kiai Fakhri punya cara cerdas supaya masyarakat mau mendekat di majelis keagamaan.

“Kiai Fakhri membawa cincin dan tas banyak ketika pengajian, kemudian dibagikan kepada jamaah yang dekat dengan mimbar. Maka yang ingin tabarrukan ke Kiai Fakhri tentu mendekat ke mimbar. Ini artinya Kiai Fakhri rela mengeluarkan sesuatu yang berharga demi berdakwah di jalan Allah,” terangnya.

Cara dakwah yang demikian menurut Kiai Marzuki adalah cara yang cerdas untuk menarik masyarakat agar mau untuk ngaji. “Ini cara cerdas, kami dari PWNU Jatim sendiri belum terpikirkan sama sekali. Semoga almarhum diridhai Allah, dirahmati Allah, kalaupun ada kesalahan semoga diampuni oleh Allah dan diangkat derajatnya. Semoga semuanya itu juga dilimpahkan kepada kita,” pungkasnya. (NJ/radar96)

Sumber:

*) https://www.nu.or.id/internasional/sapa-diaspora-nahdliyin-di-as-dan-kanada-pbnu-bawa-3-agenda-uIymi

*) https://jatim.nu.or.id/madura/wakil-ketua-pwnu-jatim-nu-eksis-dengan-tasamuh-dan-moderasi-qkZrC

*) https://jatim.nu.or.id/madura/ketua-pwnu-jatim-ungkap-kiprah-kiai-fakhri-lawan-wahabi-pn5ku

 

You may also like

Leave a Comment