Home Seni dan Budaya [Info Kegiatan] Pameran Tunggal Hari Prajitno Bertajuk “Kirangan”

[Info Kegiatan] Pameran Tunggal Hari Prajitno Bertajuk “Kirangan”

by Redaksi
0 comment 3 menit read

Kirangan adalah bahasa Jawa madya yang di dalam bahasa Indonesia berarti “entah”. Judul “kirangan” mengisyaratkan sebentuk karya seni yang bersifat eksperimental yaitu kekaryaan yang secara konvensional belum bisa dikategorikan sebagai kekaryaan seni rupa murni saja, karena di dalamnya akan disodorkan, yaitu:

 

1) 16 kekaryaan rupa berupa coretan ballpoint di atas kertas A4.

2) beberapa tanaman dan informasinya (foto dan diskripsi)

3) sebagian getah tanaman

4) beberapa bibit tanaman, benih, dan biji.

5) beberapa mainan anak-anak masa lampau

 

Kirangan adalah “ruang kemungkinan”, ruang yang memungkinkan bagi ekspresi yang kemungkinan untuk hal paling mendasar yaitu “ekspresi manusia” demi menyuguhkan makna yang kali ini saya sebagai perupa yang menyatakan bahwa:

 

a) apapun yang akan saya suguhkan adalah kekaryaan seni.

 

b) apapun yang dipamerkan di ruang seni (galeri/ museum) adalah otomatis sebentuk karya seni.

 

c) apapun dan bagaimanapun walau mungkin itu “bukan karya seni” adalah tetap akan menyodorkan suatu makna tertentu, di sini yaitu “NON-DUAL, ECO-ESTETIKA”

 

Konsep

Bagi saya ini adalah konsep non-dual yang integral dengan energi, biotik dan abiotik. Bila “manusia itu ditugasi menguasai alam” itu adalah benar yang mana kata “menguasai” bukanlah eksploitatif dan tergesa. Memang hanya manusia yang mampu berpikir dengan berkah “otak”nya, tapi kata “kuasa” bagi saya tertafsir sebagai “menata” kembali ke arah integralitas dengan alam yang mana manusia itu sendiri termasuk di dalamnya untuk menyalurkan energi yang terintegral dalam biotik (manusia, hewan, tumbuhan, bakteri, virus, jasad renik aerob dan anaerob) dan terintegral dengan abiotik (tanah, air, bebatuan, laut, sungai, lumpur dsbnya).

 

Bahasan

Jadi “KIRANGAN” adalah tampilan dalam satu ruang pamer di Gedung Krishnamustajab “AKSERA”tentang entah, belum terkategori di dalam seni, botani, atau teknologi. Di dalamnya akan dinformasikan sebagai kegiatan saya sebagai pelaku seni dan peduli lingkungan. Dari sana yang memungkinkan para penikmatnya akan kebingungan bahwa ini “bukanlah pameran seni rupa” maka akan saya bedakan secara konseptual agar secara konsep tidak membingungkan, bahwa bagian (1) di jam 0-1 (2) di jam 2-3 (3) di jam 4-5 (4) di jam 6-7 (5) di jam 8-9. Tentunya jam-jam di atas adalah konseptual, bukan jam secara kronometris dan para pemirsa dibebaskan membolak-balik jamnya secara leluasa.

Jam adalah waktu, waktu adalah ruang yang mana boleh dipisahkan secara masing-masing yang disodorkan di dalam pameran itu yang mana per item (1-5) boleh terpisah/ dipisahkan antara “seni rupa” dan yang “bukan seni rupa” walau kesemua item (1-5) berada di dalam satu ruang pamer, karena bagaimanapun kekaryaan itu telah disodorkan oleh seorang seniman adalah karya seni.

Kalaupun tidak/ belum dikatakan sebagai “karya seni” juga tidak masalah, karena bagaimanapun ekspresi ini sudah terwujud. Tidakkah dasar “pemikiran pertama” adalah “menafsir”, berkehidupan adalah menafsir. Tafsiran seorang seniman adalah “ekspresi” yang berwujud sekaligus bermakna.

 

Penutup

Inilah ruang pamer untuk mengingatkan bagaimana manusia tidak berhak atas tanah, air, dan udara beserta isinya secara eksploitatif. Memang hanya kita yang mampu menjadi “khalifah” bukan karena “kuasa” melainkan kesadaran integralitas saling keterhubungan, yaitu menafsir menuju pemahaman non-dual “roroning ngatunggil” yang mana kehidupan (termasuk kematian) tetaplah “sedang menjadi”.

 

Cat: acara ini juga berkaitan dengan BJIX

 

* silakan bagikan-sebarkan di instagram dan WA anda masing-masing

You may also like

Leave a Comment