Home Pendidikan NU Jatim Gandeng PITI dan Komunitas Tionghoa Perkuat Dakwah dan Ekonomi

NU Jatim Gandeng PITI dan Komunitas Tionghoa Perkuat Dakwah dan Ekonomi

by Redaksi
0 comment 3 menit read

Nusajawa.id – Wakil Rais PWNU KH Anwar Iskandar mengungkapkan, pengembangan ekonomi keumatan membutuhkan kerja sama, baik dari kalangan NU dan pesantren dan pihak lain untuk saling mendukung, di antaranya penting menjalin kemitraan dengan komunitas Tionghoa di Indonesia.

“Bila bicara soal agama, NU dan kiai pesantren memang bidangnya. Sedang untuk masalah ekonomi dan bidang usaha, kita tak bisa menutup mata, dengan kehadiran saudara-saudara kita dari etnis Tionghoa. Di sinilah, sebenarnya kemitraan itu harus dijalin,” tutur KH Anwar Iskandar, dalam keterangan, Rabu (19/1).

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amin Kasinan Kediri mengungkapkan hal itu, terkait kunjungan silaturahmi jajaran Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) dan Yayasan Haji Muhammad Cheng Ho Surabaya, pada pertemuan jajaran PWNU Jatim di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri pada Selasa (18/1).

Dalam pertemuan itu, hadir Ketua PITI Jatim H Haryanto, bersama jajarannya, seperti H Ali Sujarwo, Ust Haryono Ong, H Mahmud Hasan, Alek (Ketua PITI Kediri), serta dari Yayasan Masjid Muhammad Cheng Ho diketuai H Abdullah Nurawi.

Sedang jajaran PWNU Jatim dipimpin Rais Syuriah KH M Anwar Manshur dan Ketua PWNU Jatim KH Marzuki Mustamar, KH Syafruddin Syarif (Katib Syuriah) dan Prof Akh Muzakki, Grad Dip SEA, MAg, MPhil, (Sekretaris PWNU).

Kiai Anwar Iskandar, yang didaulat sebagai Wakil Rais Am PBNU 2022-2027, mengingatkan fakta-fakta dalam Tarikh Islam. “Pejuang dari zaman Nabi dan Sahabat, berdakwah hingga sampai ke China,” katanya.

Sementara, Islam ke Nusantara bukan zaman Sahabat, tapi zaman Walisongo. Tampilnya Syekh Subakir ke Jawa. Ada Syaikh Ibrahim Samarqondo alias Asmorokondi. “Kita alhamdulillah, tidak usah ke Cina tapi Cina sudah datang ke sini lebih dulu,” tutur Kiai Anwar, disambut tawa para hadirin dalam pertemuan itu.

“Di Cina, ada kebudayaan yang berusia cukup tua. Jadi, para Sabahat Nabi ke Cina semata-mata soal peradaban yag sudah cukup tua yang perlu dipelajari. Sambil ke Cina kemudian para Sahabat Nabi menyebarkan Islam,” tuturnya.

Ketika itu, Islam ala Ahlussunnah waljamaah, membawa misi Islam Rahmatan lil ‘alamin (yang santun mengayomi), yang diuntungkan umat manusia, juga negara. “Nah sekarang orang-orang Cina bisa belajar dengan NU, sehingga NU pun bisa belajar ekonomi. Belajar agama dari NU, kita bisa saling belajar, begitulah kemitraan itu,” kata Kiai Anwar Iskandar.

“Cukup disayangkan ada kelompok Islam yang justru memusuhi Cina. Yang memiliki aset ekonomi terbesar memang etnis Tionghoa, termasuk orang kaya di Kediri adalah Cina,” tuturnya.

Kiai Anwar Iskandar menegaskan, NU tempat orang-orang yang cakap dalam ilmu agama, dan Cina cakap dalam bidang ekonomi. NU punya kekuatan massa dan pendidikan agama. Sinergi dan kemitraan dalam menata perekonomian umat dan mengembangkan dakwah menjadi keniscayaan di masa mendatang.

Pada kesempatan itu, H Abdullah Nurawi, ketua Yayasan Masjid Haji Muhammad Cheng Ho, Surabaya menyatakan keinginannya untuk saling bersinergi dan bermita dengan NU dan kalangan pesantren.

“Semua ini untuk meningkatkan dakwah. Kepada para ulama dan kiai NU Jawa Timur kami mohon untuk pendampingan sebagai partner,” tuturnya, seraya menyampaikan salam H Bambang Suyanto, tokoh Muslim Tionghoa Surabaya, yang berhalangan hadir.

Lebih dalam peningkatan pendidikan dan ekonomi, disadari H Nurawi bahwa pondok pesantren berusaha untuk pengembangan ekonomi.

“Selama ini yang menjembatani kepentingan kerja sama untuk antara lain Lim Oe Yen, yang kerap menjadi koordinator kegiatan. Sayang, beliau telah wafat. Jadi, kehadiran kami saat ini berusaha untuk menjalin hubungan kembali, guna menjembatani hubungan masyarakat Tionghoa dan NU Jatim,” tuturnya. (NJ/radar96.com)

 

You may also like

Leave a Comment