Home Oase Kolaborasi Purnati dan Suzuki Tadashi Hadirkan Teater Kontemporer “Electra”

Kolaborasi Purnati dan Suzuki Tadashi Hadirkan Teater Kontemporer “Electra”

Electra di musim gugur bersalju Toga

by Redaksi
0 comment 6 menit read

Nusajawa.id – Di penghujung musim gugur, setelah sukses bekerjasama dalam produksi pertunjukan Dionysus 2016-2019, Suzuki Company of Toga (SCOT) kembali mengundang Purnati Indonesia untuk membawa sejumlah aktor teater Indonesia terpilih untuk memainkan drama Electra karya Sophocles dan Hofmannsthal yang disutradarai Tadashi Suzuki. Karya teater lawas Tadashi Suzuki ini dipentaskan pertama kalinya tahun 1995 di Olimpiade Teater pertama di Athena dan Delphi. Kemudian melakukantour ke beberapa negara yang dimainkan oleh aktor berbeda bahasa dan budaya, yang berasal dari Rusia, Korea, Amerika dan Jepang. Naskah drama klasik, di tangan Tadashi Suzuki menjadi berbeda. Selain pada dramaturginya yang berbasis pada kekuatan Grammar of The Feet dan the art of stillnessnya pada performa tubuh aktor. Suzuki fokus pada bagian konflik dan klimaks lakon, satu persoalan dendam Electra, seorang anak perempuan, pada ibu kandungnya yang bernama Clytemnestra yang menjadi otak pembunuhan suaminya sendiri, Agamemnon. Dia dibunuh di bak mandi oleh selingkuhannya, Aegisthus, setelah kembali dari kemenangan di perang Troya.

Pertunjukan Electra menggunakan set latar dan sayap kanan kiri hitam yang tersusun masif dari kotak-kotak persegi panjang dengan rangka besi sedikit renggang. Seperti ingin menggambarkan kemegahan, sekaligus keterasingan dan kesepian yang menyakitkan. Dikemas dengan musik perkusi yang dimainkan secara performatif oleh komposer Jepang, Midori Takada, di sisi kiri panggung sejak awal hingga akhir pertunjukan. Kostum yang dikenakan keluarga Agamemnon bermotif sama, dijahit dari potongan-potongan kain kecil lusuh berwarna merah, coklat, dan hijau. Memberi kesan kemegahan masa lampau sekaligus kemuraman hubungan mereka. Pada tata cahaya, pembagian ruang dan transisi setiap adegan tergarap detil dan presisi. Memainkan lampu dari arah samping panggung yang menguatkan kehadiran para aktor. Ragam bahasa dan dialek yang diucapkan para pemain turut memperkuat jahitan irama dalam pertunjukan Electra kali ini.

Pertunjukan dibuka oleh lima laki-laki yang duduk di kursi roda sebagai pasien rumah sakit jiwa. Mengenakan celana pendek, dan topi hitam membuat gerakan rampak sepatu hitam yang menyusun puzle-puzle peristiwa. Ada ruang kecil di dalam rumah sakit itu yang mengurung seorang wanita. Laki-laki itu menasehatinya untuk tidak terbakar amarah dendam. Electra diam bagai batu. Kemudian muncul dengan kursi roda yang sama, adiknya, Chrysothemis mengajak Electra untuk melarikan diri dari tempat penuh kemuraman itu, dari lingkaran keluarga jahanam yang penuh jejak darah. Namun Electra tetap tak bergeming. Amarah dendam kadung ia tanam dan mengakar kuat di tubuh, pikiran dan hatinya. Sampai pada akhir pertunjukan, Electra yang telah lama menabur benih benci pada ibunya, menuai ilusi pembalasan dendam. Orestes, saudara laki-lakinya, hadir dalam bayangan akan menunaikan janji untuk membunuh ibu mereka, padahal dia telah mati terbunuh lebih dulu.

Setelah lepas dari masa karantina selama 14 hari, aktor Indonesia mulai berlatih di gedung Black Box Toga Art Theatre dan Toga Grand Theatre (Toga Dai-Sanbo) untuk memenuhi standar pertunjukan Electra yang diinginkan sang sutradara ternama ini. Setelah pembagian peran di minggu pertama, para aktor fokus melakukan latihan di gedung teater Toga Dai-Sanbo, dan berjalan rutin sekitar 20 menit dari Kouryukan ke Toga Dai-Sanbo untuk berlatih dan kembali untuk makan siang dan makan malam. Metode pembiasaan ini memang dibutuhkan, selain karena pertunjukan ini membutuhkan kekuatan kaki para pemain dan kemampuan ensamble. Sutradara menurunkan aktor SCOT yang pernah memainkan karya yang sama sebelumnya untuk mempercepat pemahaman para aktor Indonesia. Adegan demi adegan dilatih intensif selama dua pekan, dilanjutkan dengan latihan terpisah tiap aktor, detil adegan dan run thru dalam dua minggu terakhir di gedung yang sama.

Para aktor Indonesia terpilih telah menyiapkan pertunjukan ini secara mandiri sejak bulan Agustus 2021 di Kebun Seni Jampang Purnati, Bogor yang difasilitasi Purnati Indonesia. Mulai dari latihan metode keaktoran Suzuki, bedah naskah terjemahan Nirwan Dewanto, dan mempelajari video pertunjukan Electra produksi 2015. Menghapal teks seluruh peran koor laki-laki dan Orestes bagi pemain laki-laki dan teks Chrysothemis dan Electra bagi pemain wanita. Serta mempelajari koreografi koor laki-laki dan koreografi Electra. Sebagian aktor menerjemahkan teks dialog mereka ke dalam bahasa ibunya. karenanya, muncul berbagai bahasa dan dialek dalam karya Electra kali ini, antara lain; Jawa Brebes, Jawa Yogja, Sasak Lombok, Minang, Indonesia dan Jepang.

Barisan cemara masih tegak dan hijau di antara pepohonan lain yang sudah mengering dan menguning di penghujung musim gugur. Daun-daun berguguran dalam satu malam ketika angin bertiup kencang. Tepat di hari pementasan Electra, Sabtu 27 November 2021, desa Toga, markas SCOT yang dibuka sejak 1976, memutih oleh salju. Keindahan lembah hijau berganti warna putih seluruhnya setelah dingin dan kering mendera tak berkesudahan selama musim gugur. Syarat menuju kebahagiaan tak dapat dielakan dari tangga-tangga kedukaan. Sebagaimana keindahan dan pesona dari karya-karya pertunjukkan Tadashi Suzuki yang menawarkan keniscayaan penderitaan sebagai inti dari proses berteaternya. Metode keaktorannya yang telah mendunia, secara sistematis dan sederhana mengajak kita untuk melihat kembali potensi alami tubuh manusia. Menghadirkan kekuatan aktor yang memahami produksi energi, pengolahan nafas dan keseimbangan atau titik gravitasi sebagai produsen kebudayaan dan menolak hegemoni teknologi digital di atas panggung.

Pertunjukan Electra yang diproduksi bersama Suzuki Company of Toga dan Purnati Indonesia, dan disponsori oleh The Japan Foundation ini merupakan produksi perdana di masa pandemi yang dimainkan aktor asing di desa Toga. Sekaligus menjadi obat penawar kerinduan aktor Indonesia bermain di atas panggung yang disaksikan penonton secara langsung. Mendapat undangan istimewa yang didukung kekuatan diplomasi Tadashi Suzuki melalui pemerintah Jepang merupakan upaya luar biasa. Ini menunjukkan betapa pentingnya ekspresi kesenian di masa apapun dan keberadaan SCOT di desa Togamura sebagai The Mecca of Theatre. Terbukti di tengah guyuran hujan salju, penonton berbondong-bondong untuk menyaksikan Electra.

Ditulis oleh Bambang Prihadi.

Toga-mura, 27 November 2021

You may also like

Leave a Comment