Home News Kolaborasi NU-Pers Perkuat Civil Society

Kolaborasi NU-Pers Perkuat Civil Society

by Redaksi
0 comment

Surabaya, Nusajawa.id – Media massa yang sehat dan profesional menjadikan posisi tawar masyarakat sipil dan negara semakin kuat, dalam menyuarakan fakta dan kebenaran di tengah masyarakat yang terus berubah.

“NU sebagai civil society sudah lazim mengajak kerja sama dengan media massa dan kalangan pers. Karenanya, kolaborasi dengan pengambil kebijakan di institusi media yang dikelola secara profesional akan menjadikan kekuatan tersendiri bagi kemajuan bersama,” kata ketua panitia Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-99 NU, Prof Dr KH Abd A’la Basyir, di Surabaya, Kamis (24/02) siang.

Dalam pengantar Forum Group Discussion (FGD) Nahdlatul Ulama Jatim dan Forum Pemimpin Redaksi Jawa Timur di Gedung PWNU Jawa Timur di Surabaya, Guru Besar UIN Sunan Ampel yang juga Rais Syuriah PBNU itu menegaskan, sebagai kekuatan Civil Society NU bersama-sama pers mempunyai tanggung jawab sosial dan moral, untuk melakukan pembelaan terhadap masyarakat secara luas.

“Apalagi, keberadaan media massa selalu berjalan seiring dengan perkembangan masyarakat. Sejak perjalanan bangsa Indonesia sebelum kemerdekaan, media massa berfungsi untuk melakukan kesadaran akan kebangsaan dan perubahan-perubahan ke arah perbaikan masyarakat,” tutur Prof A’la, yang juga Pengasuh Pesantren An-Nuqoyyah Guluk-Guluk Sumenep, Madura itu.

FGD itu dihadiri lebih dari 40 Pemimpin Redaksi (Pemred) media-media di Jawa Timur, baik media cetak, elektronik, maupun berita online serta organisasi pers seperti AJI, PWI, AMSI, dan IJTI.

Pada kesempatan tersebut, pesan-pesan tentang program NU ke depan disampaikan oleh Wakil Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdus Salam Shohib, Wakil Katib PWNU Jatim KH Sholeh Hayat, Wakil Sekretaris PWNU Jawa Timur Hakim Jayli yang juga CEO TV9, dan Sekretaris PWNU Jatim Dr M Hasan Ubaidillah.

Sementara itu, KH Abdus Salam Shohib memberikan penjelasan, menjelang satu abad NU, tantangan yang dihadapi NU semakin kompleks. Tidak hanya terkait keumatan namun juga bagaimana respons NU terhadap perkembangan zaman.

Menurut Gus Salam, panggilan akrab Pengasuh Pesantren Manbaul Maarif Denanyar Jombang itu, NU harus menyikapi dengan bijak dunia digital. Karena dengan sikap bijak itu, jam’iyah ini tidak akan ketinggalan, tapi juga tidak boleh menggadaikan nilai-nilai utama yang dimiliki.

“Seorang yang bijak dan cerdas itu akan mengikuti perkembangan zaman dan akan bersikap sesuai kebutuhan zaman dengan tidak menggadaikan nilai-nilai fundamental seperti akhlak dan norma-norma. Namun kita bisa menyesuaikan cara dan desainnya dengan massif di media sosial dan menggunakan platform digital. Karena jika tidak mengikuti zaman, dakwah yang kita lakukan tidak sampai di masyarakat,” katanya.

Gus Salam juga mengungkapkan ada beberapa masukan yang diberikan para awak media kepada NU. “Ada banyak masukan dari awak media kepada NU, di antaranya adalah digitalisasi di berbagai hal dan konsentrasi NU dalam kehadiran media di persoalan umat,” ujar Gus Salam.

Gus Salam memaparkan bahwa sebenarnya masukan-masukan tersebut selaras dengan fokus utama PWNU Jatim.

“Ini sebenarnya sama dengan fokus kita menjelang satu abad ini. Salah satunya yang paling kita inginkan adalah orientasi pelayanan umat yang maksimal. Makanya ada panca harakah yg disitu ada fasilitas kesehatan, BMT, literasi digital, pendidikan, dan pengkaderan. Itulah bentuk pelayanan NU kepada umat,” ujar Gus Salam.

Menjelang FGD ini berakhir, Ketua PWNU Jawa Timur KH Marzuki Mustamar, berkesempatan menyampaikan tanggapan dan sekaligus menutup dengan doa. “Pada dasarnya, kami siap menerima kritik. Asalkan, media dan kalangan pers bekerja profesional dalam menyampaikan fakta,” pesan Kiai Marzuki Mustamar, yang Pengasuh Pesantren Sabilurrosyad Gasek Kota Malang. (NJ/red)

You may also like

Leave a Comment