Home Gaya HidupKesehatan Kemenkes Luncurkan Platform Indonesia Health Services Hindari Duplikasi Input Data Kesehatan

Kemenkes Luncurkan Platform Indonesia Health Services Hindari Duplikasi Input Data Kesehatan

by Redaksi
0 comment
Kemenkes Luncurkan Platform Indonesia Health Services

Nusajawa.id – Saat ini terdapat puluhan aplikasi di rumah sakit dan Puskesmas yang bersifat duplikasi data. Untuk menghindarkan duplikasi tersebut, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pun membuat platform Indonesia Health Service (IHS).

Staf Ahli Menteri Kesehatan bidang Teknologi Kesehatan Setiaji mengatakan, jumlah aplikasi yang ada di rumah sakit sekitar 50 dan di Puskesmas sekitar 70 aplikasi. Setelah ditelaah lebih dalam aplikasi-aplikasi tersebut ternyata saling duplikasi input pelaporan.

“Jadi prinsip kami adalah tidak ingin adanya duplikasi input berbasis pelaporan, sebagaimana pada saat kami meluncurkan buku biru strategi transformasi digital di mana pak Menteri mengamanatkan agar kita fokus kepada layanan bukan lagi ke pelaporan,” katanya Setiaji dalam keterangannya yang diterima redaksi Kamis, (28/04).

Oleh karena itu, lanjut Setiaji aplikasi-aplikasi duplikasi input yang ada di rumah sakit dan Puskesmas, sangat mungkin tidak akan digunakan kembali setelah terintegrasi dengan platform IHS. Hal itu dikarenakan datanya cukup satu kali input sudah muncul di semua layanan terkoneksi IHS.

“Sehingga jumlahnya akan drastis menurun dari saat ini 50 sampai 70-an aplikasi itu paling nanti akan ada tiga sampai empat aplikasi utama,” ucap Setiaji.

Pihaknya harus menyiapkan standardisasi untuk melakukan integrasi, termasuk kode referensi seperti kode fasilitas kesehatan yang berbeda. Yang harus dilakukan adalah membuat kode tersebut bisa digunakan secara bersama.

Variabel-variabel yang ada di dalam layanan kesehatan pun harus disesuaikan. Misalnya untuk variabel jenis kelamin yang biasanya ada menggunakan perempuan dan laki-laki atau pria dan wanita. Yang harus ditentukan adalah ‘P’ itu perempuan atau pria.

Ada ribuan kode lain seperti obat yang saat ini di rumah sakit sudah ada ribuan kode verifikasi.

“Kita satukan kode verifikasinya sehingga begitu terintegrasi akan jelas ini kodenya untuk obat A atau obat B,” imbuh Setiaji. (NJ/red)

You may also like

Leave a Comment