Home Seni dan Budaya Dukung Reog Ponorogo Jadi Warisan Budaya Tak Benda di UNESCO

Dukung Reog Ponorogo Jadi Warisan Budaya Tak Benda di UNESCO

by Redaksi
0 comment
Menko PMK Muhadjir Effendy Usai berdialog dengan Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko di rumah dinas Bupati Ponorogo

Ponorogo, Nusajawa.id – Reog Ponorogo adalah seni pertunjukan tradisional rakyat yang tersohor dari Ponorogo, Jawa Timur. Kesenian Reog masuk dalam nominasi tunggal Warisan Budaya Tak Benda atau Intangible Cultural Heritagen (ICH) yang akan diusulkan Indonesia ke United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).

Sebelumnya, Reog Ponorogo telah tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia oleh Mendikbud RI pada 2013.

Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mendukung penuh dan mengajak seluruh masyarakat untuk turut mendukung Reog Ponorogo menjadi warisan budaya tak benda di UNESCO.

“Saya mendukung penuh reog diusulkan menjadi warisan budaya tak benda di UNESCO. Saya upayakan supaya berhasil dan bisa menjadi kebanggaan, bukan hanya bagi masyarakat Ponorogo tapi juga seluruh Indonesia,” ujar Menko PMK saat berdialog dengan Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko di rumah dinas Bupati Ponorogo, Senin (04/04).

Selain itu Menko PMK juga meminta agar pemerintah Ponorogo secepatnya mengusulkan Reog Ponorogo ke UNESCO dan mempersiapkan data yang diperlukan.

“Untuk reog, Malaysia renacananya mau ajukan juga, maka kita harus lebih dulu. Karena ini sudah menjadi budaya dan warisan kita,” jelasnya.

Adapun menurut pemaparan Deputi Bidang Koordinasi Revolusi Mental, Pemajuan Kebudayaan dan Prestasin Olahraga Didik Suhardi, berkas pengusulan dan kelengkapan Reog telah diterima oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemendikbudristek melalui Direktorat Pelindungan Kebudayaan serta telah diajukan kepada Sekretariat ICH UNESCO pada 31 Maret 2022 beserta nominasi lainnya: tempe, jamu, tenun Indonesia dan kolintang.

“Secara kesiapan video foto dan dokumen sudah disiapkan Kabupaten Ponorogo. Sebelumnya juga sudah diterima oleh Kemendikbud, tapi sampai hari ini belum ada pengumuman lagi,” ungkapnya.

Sementara itu, Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko dalam seleksi wawancara dengan UNESCO, telah memberikan penjelasan terkait penggunaan bulu merak dan kulit harimau dalam kesenian ini. Ia menjelaskan bulu tersebut bukan dicabut, tetapi memang dalam kurun waktu tertentu bulu merak tersebut lepas sendiri dari tubuh merak.

Selain itu, yang belasan tahunan lalu masih menggunakan kulit harimau, saat ini sudah diganti kulit kambing yang diformat seperti kulit harimau. Kalau dua hal ini sudah terjawab dan meyakinkan UNESCO, kata dia, maka reog Ponorogo akan lolos sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO.

Sugiri menambahkan, pihaknya akan terus berusaha dan bekerja keras agar dunia mau mengakui reog Ponorogo. Ia pun menyampaikan terima kasih atas dukungan Menko PMK kepada Reog Ponorogo.

“Kami akan terus bekerja keras agar ini bisa berhasil lolos. Mohon doanya juga kepada seluruh masyarakat Ponorogo,” ujarnya.

Setiap tahun Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan selalu ada proses seleksi bagi warisan budaya tak benda di Indonesia. Kemudian, warisan budaya yang menjadi unggulan akan dilanjutkan ke UNESCO.

Pemkab Ponorogo sendiri sebelumnya pernah mengusulkan reog Ponorogo ke dalam daftar ICH UNESCO pada 2018, namun belum berhasil. Di tahun tersebut, justru gamelan Indonesia yang lolos dan berhasil diakui UNESCO pada 15 Desember 2021.

Reog Ponorogo adalah seni pertunjukan tradisional rakyat Ponorogo yang di dalamnya terdapat unsur-unsur penari warok, jatil, bujangganong, kelanasewandana, dan barongan. Tarian tersebut diiringi dengan seperangkat instrumen pengiring reog khas ponoragan yang terdiri dari kendangi, kempul (gong), kethuk- kenong, slompret, tipung, dan angklung. (NJ/red)

You may also like

Leave a Comment